Bulan Mei tahun ini benar-benar memberiku
pemahaman-pemahaman baru tentang bagaimana persahabatan alam dan manusia saat ini.
Aku merasa sedih sekali dengan keadaan yang menyiksa seperti ini. Kesal dengan
tingkah manusia yang seenaknya sendiri menjelajah alam tapi tak mau
menghormatinya.
Deritaku adalah keadaan alam negriku…
Deritaku
Nusantaraku
indahnya
jagat dunia
dari
Suralaya hingga Arcapada
hanya
dengan Kun terciptalah semesta
membuat
terpana akan syurga yang tercipta
gunung-gunung
ditinggikan
hutan
belantara dihijaukan
samudera
lautan dihamparkan
dan
ikan-ikan ditebarkan
berlinang
air mataku
menyaksikan
nuswantara
yang
berubah laksana neraka
dunia
penuh suka di atas duka
lenyaplah
segala asa
hanya
ada dusta si pendosa
manusia
kehilangan jatidiri
hanya
menikmati
tanpa
melindungi
ingin
ku tembus kahyangan Suralaya
mengadukan
derita bertemu Sang Dewa
sadar
ku tak berdaya
ku
panjatkan lewat doa
Duhai
Tuhan Semesta Alam
kini
manusia kehilangan jatidiri
dan
tak punya kepastian hati
sadarkanlah
kami para pemuja-Mu
agar
tidak hanya menikmati ciptaan-Mu
tapi
lebih bisa menghayati kuasa-Mu
Jum’at,
30 Mei 2014
By:
Pras Prasetyo
Marah, kecewa, sedih, dan ribuan rasa berkecamuk dalam
diri. Ternyata akupun sama seperti mereka. Hanya mau enaknya saja tanpa mau
merawatnya.
“Dasar manusia-manusia keparat! Kau bersembunyi di
balik muka polosmu. Bermuka dua dalam doa yang kau komat-kamitkan. Dengan hanya
mensucikan nama Tuhanmu apakah cukup? Apakah ucapan kata syukur sudah cukup?
Apa dengan begitu saja alam kan bahagia?” ku maki saja kaca di depan mataku.
Inilah fenomena yang sekarang semakin menjadi. Dengan mengatas
namakan kekuasaan Tuhan. Seenaknya saja menjajah alam dan merusaknya.
Semata-mata bukanlah masalah perut. Yang aku takutkan adalah para pemburu
keindahan alam yang tak tahu adat menjamah-jamah bumi nusantara.
Lihatlah ke dalam sanubarimu! Apa kau tega membiarkan
negrimu diperkosa nafsu dunia? Berbondong-bondong dengan gelak tawa menyusuri
hutan dan gunung, menyelami lautan, menjejakkan kaki di garis pantai alami,
hingga menggerogoti goa-goa suci di dalam bumi. Dilakukannya tanpa di dasari
rasa cinta dalam hati. Semua hanya kekosongan kepalsuan diri, demi kepuasan
rasa akan kenikmatan yang Tuhan ciptakan.
Untaian puja dan puji kepada Tuhan dilantunkannya
dengan lantang. Mengguncang semesta hingga bergetaran melemaskan kaki.
Jerit-jerit kecil menggelitik sanubari, membasahi pipi kanan dan pipi kiri.
Lirih-lirih tangisan bumi melunturkan pelangi. Sorot matahari sayu-sayu
mencahayai pertiwi. Kian benderang yang sebenarnya meredupkan bimasakti.
Alam-Mu tak lagi asri. Gunung-Mu tak lagi gagah
berdiri. Laut-Mu tak lagi suci. Langit-Mu tak lagi menaungi. Bergegaslah menuju
kematian. Seberkas kehidupan abadi telah menanti. Siap membelai kulitmu dengan
duri belati.
Wahai para penjajak bumi pertiwi. Sadarlah dari mana
kau berasal. Bersikaplah membumi! Jagalah alam ini seperti kau menjaga dirimu
sendiri. Ini bukan petuah untuk siapapun. Semuanya untuk diri sendiri.
Renungkan kembali bagaimana persahabatan kita dengan
alam ini.
Minggu Legi, 23 November 2014
Prast.