Aku melihat api!
Merah: membara dalam bola mata
Aku tak tahu kapan mulai menyala
Yang aku ingat, sore itu kita bertemu
Dan aku berkata: sudah cukup!
Selebihnya kita tak lagi bicara
Tak berhasrat walau sepatah dua patah kata
Lalu aku meninggalkanmu, tenggelam bersama senja yang kelam.
Sekian waktu berlalu
Kita akhirnya bertemu
Lagi-lagi aku melihat api
Semakin jauh aku menatap matamu
Semakin liar menyala-nyala
Aku menutup mataku
Seketika bara itu bicara: padamkan aku!
Bagaimana caranya?
Padamkan aku!
Aku tak tahu caranya.
Padamkan aku lelaki dungu!
Tapi…
Padamkan!
Padamkan aku dengan air matamu!
Air mata kesendirianmu,
Air mata kebodohanmu,
Air mata kesalahanmu,
Air mata penyesalanmu,
Lalu menangislah!
Menangis sederas hujan dikala siang
Menangis dengan penuh kesadaran
Menangis dengan penuh ketulusan
Menangislah atas dasar kerinduan
Menangislah atas dasar pertaubatan
Dan di akhir malam, kau akan temukan
Apa itu mengasihi
Apa itu menyayangi
Hingga bagaimana kau berkasih sayang.
Oktober 2015