Minggu, 30 Agustus 2015

Sunyi

sepi,
satu kata yang aku temui,
semenjak berdua menjadi sendiri.

tepi,
batas yang aku susuri,
semenjak engkau tak lagi di sisi.

August, 2015

Tangisanmu Derita Bagiku




Bulan Mei tahun ini benar-benar memberiku pemahaman-pemahaman baru tentang bagaimana persahabatan alam dan manusia saat ini. Aku merasa sedih sekali dengan keadaan yang menyiksa seperti ini. Kesal dengan tingkah manusia yang seenaknya sendiri menjelajah alam tapi tak mau menghormatinya.
Deritaku adalah keadaan alam negriku…
Deritaku Nusantaraku

indahnya jagat dunia 
dari Suralaya hingga Arcapada 
hanya dengan Kun terciptalah semesta 
membuat terpana akan syurga yang tercipta 

gunung-gunung ditinggikan 
hutan belantara dihijaukan 
samudera lautan dihamparkan 
dan ikan-ikan ditebarkan 

berlinang air mataku 
menyaksikan nuswantara 
yang berubah laksana neraka 

dunia penuh suka di atas duka 
lenyaplah segala asa 
hanya ada dusta si pendosa 

manusia kehilangan jatidiri 
hanya menikmati 
tanpa melindungi

ingin ku tembus kahyangan Suralaya 
mengadukan derita bertemu Sang Dewa 
sadar ku tak berdaya 
ku panjatkan lewat doa 

Duhai Tuhan Semesta Alam 
kini manusia kehilangan jatidiri 
dan tak punya kepastian hati 
sadarkanlah kami para pemuja-Mu 
agar tidak hanya menikmati ciptaan-Mu 
tapi lebih bisa menghayati kuasa-Mu 

                                                            Jum’at, 30 Mei 2014
By: Pras Prasetyo

Marah, kecewa, sedih, dan ribuan rasa berkecamuk dalam diri. Ternyata akupun sama seperti mereka. Hanya mau enaknya saja tanpa mau merawatnya.
“Dasar manusia-manusia keparat! Kau bersembunyi di balik muka polosmu. Bermuka dua dalam doa yang kau komat-kamitkan. Dengan hanya mensucikan nama Tuhanmu apakah cukup? Apakah ucapan kata syukur sudah cukup? Apa dengan begitu saja alam kan bahagia?” ku maki saja kaca di depan mataku.
Inilah fenomena yang sekarang semakin menjadi. Dengan mengatas namakan kekuasaan Tuhan. Seenaknya saja menjajah alam dan merusaknya. Semata-mata bukanlah masalah perut. Yang aku takutkan adalah para pemburu keindahan alam yang tak tahu adat menjamah-jamah bumi nusantara.
Lihatlah ke dalam sanubarimu! Apa kau tega membiarkan negrimu diperkosa nafsu dunia? Berbondong-bondong dengan gelak tawa menyusuri hutan dan gunung, menyelami lautan, menjejakkan kaki di garis pantai alami, hingga menggerogoti goa-goa suci di dalam bumi. Dilakukannya tanpa di dasari rasa cinta dalam hati. Semua hanya kekosongan kepalsuan diri, demi kepuasan rasa akan kenikmatan yang Tuhan ciptakan.
Untaian puja dan puji kepada Tuhan dilantunkannya dengan lantang. Mengguncang semesta hingga bergetaran melemaskan kaki. Jerit-jerit kecil menggelitik sanubari, membasahi pipi kanan dan pipi kiri. Lirih-lirih tangisan bumi melunturkan pelangi. Sorot matahari sayu-sayu mencahayai pertiwi. Kian benderang yang sebenarnya meredupkan bimasakti.
Alam-Mu tak lagi asri. Gunung-Mu tak lagi gagah berdiri. Laut-Mu tak lagi suci. Langit-Mu tak lagi menaungi. Bergegaslah menuju kematian. Seberkas kehidupan abadi telah menanti. Siap membelai kulitmu dengan duri belati.
Wahai para penjajak bumi pertiwi. Sadarlah dari mana kau berasal. Bersikaplah membumi! Jagalah alam ini seperti kau menjaga dirimu sendiri. Ini bukan petuah untuk siapapun. Semuanya untuk diri sendiri.
Renungkan kembali bagaimana persahabatan kita dengan alam ini.
Minggu Legi, 23 November 2014
Prast.

Learn From Everything



Learn From The Bridge
Belajar bisa dari mana dan dari apa saja. Tak memandang itu pohon, batu, benda, maupun manusia, semua itu dapat kita jadikan sebagai sumber belajar. Seperti jembatan ini…
Di Atas Pagar Jembatan

termenung di atas pagar jembatan, 
betapa kokoh ia menopang yang lalu lalang, 
tak ada keluh kesah di wajahnya 
dan ku berkaca pada air di bawahnya, 
sejuk dan teduh, 
ikan pun bernaung di peluknya, 
tak terasa petang tlah menjelang, 
kumandang adzan bermesraan dengan senja, 
yaahh… 
inilah waktuku tuk berpulang.

                                                                                    Kamis, 29 Mei 2014
by: Pras Prasetyo

Ilmu memang sangat bermanfaat bagi kita. Apalagi ilmu itu ilmu tentang kehidupan yang baik tentunya. Pernahkah membayangkan menjadi jembatan? Wahh pasti berat yah hidup menjadi jembatan. Setiap hari harus menopang dan rela diinjak dilewati orang yang lalu lalang. Baktinya sangat mulia, tak ada rasa sedih atau lelah di wajahnya. Dengan penuh gigih ia berjuang agar yang melewatinya merasa aman dan nyaman. Hanya ada tawa ikan-ikan kecil sebagai pelipur lara yang senantiasa menghibur rumah tempat ia bernaung.
Sungguh pemandangan yang membuat hati riang. Berjuang menjadi penghubung jalan bagi orang yang akan menyebrang sungai. Menjadi malaikat pelindung makhluk-makhluk lemah yang menghiburnya. Suatu kehidupan yang sederhana tapi teristimewa. Sudah seharusnya kita juga belajar dari jembatan itu. Belajar menolong orang lain yang sedang kesusahan. Belajar menjadi pelindung bagi orang-orang yang lemah dan tak berdaya menghadapi dunia. Sulit memang, tapi jika ada kemauan pasti bisa melakukan. Mari belajar berkorban gaes!
Minggu Legi, 23 November 2014
Prast.

Denting Waktu




Waktu terus berjalan dan tak ada yang bisa menghentikannya. Kian lama waktu terasa begitu cepat berlalu. Akan aku kisahkan puisi tetang waktu…

Denting Waktu

tik...tok...tik...tok...
waktu berlari mengejar matahari,
siapapun yang menghentikannya
ia kan abadi dalam kebinasaanya

waktu berlalu menggoreskan rahasia alam,
meninggalkan jejak penyesalan setiap insan,
tidakkah kau belajar dari yang telah lalu,
mengambil hikmah dari kisah yang pilu,

tok...tik...tok...tik...
waktu diputar bukan tuk dihentikan,
waktu dihidupkan bukan tuk dimatikan,

bangun,
sadarlah,
mengapa waktu yang kau persalahkan?
lihat dirimu,,
sucikan jiwamu,
penjarakan akalmu,
gunakan nurani tuk menghakimi,
dan kau kan temukan apa itu kebenaran.

                                                                        Rabu, 28 Mei 2014
by: Pras Prasetyo

Yaa, perputaran waktu aku ibaratkan seperti mengejar matahari. Sejauh itu? Lalu sampai kapan? Begitulah waktu, tak akan pernah berhenti sampai ia berhasil menggapainya. Itu berarti waktu memang selalu berputar dan tak berhenti walau hanya sedetik. Siapapun yang mencoba menghentikan waktu, berarti dia berusaha mengakhiri hidupnya. Logikanya, manusia hidup itu memiliki batas usia/umur. Tidak ada manusia yang hidup abadi. Umur itu kan berkaitan dengan waktu. Ketika umur sudah kehabisan waktu, apa yang terjadi? Seseorang akan mengalami kematian bukan? Jadi, kalau ada orang yang ingin menghentikan waktu berarti dia ingin pula perjalanan hidupnya berakhir.

Segala sesuatu yang telah berlalu tentu meninggalkan sebuah bekas/jejak. Apapun yang kita lakukan akan meninggalkan kisah. Baik itu kisah yang menyedihkan ataupun menyenangkan. Yang terpenting adalah bagaimana cara kita menyikapi hal tersebut. Dibalik kejadian pasti akan ada hikmah/pelajaran yang bisa diambil. Jangan sampai tergulung dalam gelombang penyesalan.

Terkadang, karena kita mengalami suatu kejadian yang begitu buruk malah waktu yang kita persalahkan. Contohnya pernahkah mendengar atau berkata, “duh jamnya ko jalan cepet banget sih?” lalu “andai waktu dapat diputar kembali?” dari pertanyaan itu sudah tergambarkan kalau ada kesan menyalahkan waktu karena tak dapat diulang kembali seperti dulu. Dan memang ada rasa penyesalan yang mendalam ketika kita melewatkan waktu begitu saja.

Pasti nggak mau kan kalau waktu di dunia yang sementara ini hanya sia-sia dan berakhir dengan sesal di dada. Nah, apalagi kalau kita sudah terpendam ke dalam tanah? Bisa apa kita? Yang pasti tak ada kesempatan lagi untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan kita to. Untuk itu, mari benahi diri, jangan waktu yang dipersalahkan. Berperilaku bijaklah dengan beristropeksi mengkoreksi diri sendiri.
 Kita kalau mau cantik/ganteng aja harus dandan kan? Terus dandannya di mana? Di depan kaca lah, kalau tidak pake kaca pasti belepotan tuh make up-nya. Nah, berarti dalam kehidupan ini juga perlu ngaca, buat dandan memperbaiki diri agar jadi pribadi yang lebih oke pastinya.

Waktu diputar Sang Pencipta bukanlah untuk dihentikan, waktu dihidupkan Sang Pencipta bukanlah untuk dilenyapkan. Gunakanlah hati nurani tuk temukan kebenaran. Hadapi kenyataan hidup dengan penuh rasa syukur. Bijaksanalah dalam menyikapi adanya perputaran waktu. Suatu saat, ketika masa itu tiba, pasti Dia kan hentikan waktu, mematikan segala kehidupan yang tercipta.

Minggu Legi, 23 November 2014
Prast.