Minggu, 23 November 2014

Resensi Buku: Siapakah yang Tidak Ingin Disayang Allah?



Judul               : Siapakah yang Tidak Ingin Disayang Allah?
Penulis            : Achmad Lutfi
Penerbit           : Mumtaz Publishing
Terbit              : Cetakan I, Desember 2012
Tebal               : 107 Halaman
Jenis Buku       : Agama

Siapakah yang Tidak Ingin Disayang Allah? Sebuah judul sekaligus menjadi pertanyaan bagi para pembaca. Buku yang menyelipkan keinginan mendalam penulis yang berharap buku ini menjadi salah satu bentuk ikhtiar dalam memperjuangkan putra-putri penulis menjadi generasi penerus yang shalih-shalihah, cinta kepada Rasullah SAW dan dzuriah beliau, cinta pada ulama, dan dapat meneladani jejak langkah mereka para salafussalih.
Kembali pada judul buku ini, penulis mencoba memaparkan beberapa cara agar dapat di sayang oleh Allah. Pada bagian satu, penulis menjelaskan tentang bagaimana mengatur diri agar kelak dapat membangun generasi yang lebih mulia. Yang pertama adalah dengan memulai awal yang baik yaitu memulai langkah-langkah awal dengan mengucap bismillah dan dengan penuh semangat. Man asyraqat f awwalihi, asyraqat f akhirihi… Barang siapa semangat di permulaan, akan sukses di akhiran. Man jadda wajada… Barang siapa bersungguh-sungguh, dia akan berhasil (hal 6).

Langkah pertama pada bagian satu adalah memperbaiki akhlak. Al-waladu mir-atul waalid… Anak adalah cerminan orang tua, sifat anak akan mengikuti sifat kedua orang tuanya. Untuk itu, penulis menekankan agar mencontoh dan meniru akhlak terpuji dari Rasulullah SAW. Allah berfirman:
Sesungguhnya Engkau Muhammad benar-benar memiliki budi pekerti   yang luhur” (QS. Al-Qalam, ayat 4)
Selanjutnya yaitu memperbanyak ilmu, dalam hal ini Rasulullah bersabda, yang diriwayatkan oleh sahabat Anas r.a.: ”Thalabul ‘ilmi fariidhotun ‘alaa kulli muslimin”. Menuntut ilmu itu hukumnya wajib bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun wanita. Di sini, juga dipaparkan beberapa manfaat ilmu melalui kisah-kisah ulama zaman dulu.
Yang ketiga adalah mengutamakan makanan halal. Pada halaman ini, penulis memaparkan tentang bahaya dan pengaruh makanan haram bagi jiwa dan raga seseorang.
Langkah keempat yaitu berbakti kepada orang tua. Para pembaca diajak untuk berbakti kepada orang tua dengan menggunakan rujukan kisah bakti para salafussalih kepada orang tuanya.
Berikutnya menjelaskan manfaat doa, waktu mustajabah untuk berdoa, dan sholat malam. Dan yang terakhir pada bagian I berisikan pedoman dalam mencari pendamping hidup.
***
Lanjut ke bagian II, ada beberapa bahasan tentang bagaimana membangun suatu generasi yang mulia. Memulai  dari menjadi teladan bagi anak-anak, memilihkan guru, sekolah, dan pesantren yang baik, kemudian mendidik anak agar mau memuliakan ulama, hingga pentingnya pesan dan nasihat kebaikan untuk anak-anak.
Bagian ke-III penulis menjelaskan tentang menuntut ilmu di pesantren. Penulis memaparkan dari sejarah pesantren di Indonesia, disebutkan juga di mana negeri para wali, dan bagaimana perjalanan dakwah Hadhramaut-Indonesia, serta menyampaikan betapa pentingnya nyantri.
Pada bagian penutup atau bagian ke-IV merupakan hal yang menurut saya sangat tepat digunakan sebagai penutup. Pada bagian akhir ini, penulis menuliskan beberapa nasihat dari para wali Allah seperti nasihat Lukmanul Hakim pada anak-anaknya, wasiat Sayyidina Ali kepada Hasan dan Husain, kemudian nasihat dari Ibnu Atho’illah As-Sakandari dalam kitabnya Al-Hikam, nasihat penuh hikmah dari Maulana Al Habib Umar bin Hafidz, ada juga nasihat dari Syekh Abdul Malik Kedungparuk, Purwokerto, dan nasihat dari ulama kharismatik asal Banten yaitu Al Maghfurlah Abuya Dimyati, serta nasihat Al-Habib Muhammad Lutfi bin Yahya dari Pekalongan. Nasihat-nasihat tersebut tentu sangat baik dijadikan rujukan untuk menjalani hidup yang singkat ini.
Terakhir, buku ini berisi epilog: keshalihan diri, kunci kebahagiaan sejati oleh Itmam Lutfhi (Santri Alumni Pesantren Langitan, Tuban).
“Tak ada seorang manusia yang menolak disayang oleh Allah; bahkan seorang penjahat, di hati kecilnya pun pasti terbesit keinginan agar bisa dikasih sayangi oleh-Nya. Tapi sayang, (terkadang) untuk meraih cinta-Nya banyak di antara kita yang menyalahkan lingkungan. Bahkan tak sedikit orang berkata; “Di lingkungan saya banyak orang mabuk-mabukan, banyak penjudi. Berada di lingkungan yang buruk, bagaimana saya dan keluarga bisa menjadi baik?” pernyataaan seperti itu tidaklah tepat. Ingat, jangan selalu mencari kambing hitam, namun ciptakanlah solusi agar lingkungan kita bisa menjadi lingkungan yang ideal.”
Al-Habib Muhammad Luthfi bin Yahya
(Rais’Amm Jam’iyyah At-Thariqah Mu’Tabarah An-nahdhiyah)
“Buku ini adalah sebuah contoh dari usaha pencarian jatidiri; yang ditulis oleh seorang pemuda berusia dua puluh empat tahun. Insya Allah sangat bermanfaat bagi pembaca, khususnya bagi para pemuda yang tengah bergelut mencari jatidiri.”
Drs. KH. Muhammad Ilyas Noor
(Pengasuh Pondok Pesantren Thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidiyah Bani Malik, Kedungparuk, Purwokerto)
“Simpanlah buku ini baik-baik, dan bukalah kembali di kala anda merasa keluar dari trek keshalihan. Selamat mengejar impian menjadi manusia yang shalih, dan membangun generasi yang jauh lebih shalih.”
Itmam Lutfhi
(Santri Alumni Pesantren Langitan, Tuban)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar