Entah harus sedih atau bahagia. Sudah lebih dari 23
tahun aku menghirup udara bebas sejak pertama kalinya aku lahir dari keluarga
yang bisa dibilang biasa-biasa saja. Akan tetapi, aku harusnya bersyukur bisa
hidup dan dihidupi oleh kedua orang tua yang sungguh luar biasa. Berbanding terbalik
dengan yang aku rasakan sekarang memang, aku merasa iri dengan kehidupan yang
dimiliki oleh teman-teman sebayaku. Hal ini karena apa yang mereka bisa miliki
tak bisa aku merasakannya. They have what
I haven’t, they can get what everyone want, but I can’t. Sungguh sakit apa
yang aku rasakan, tapi pasti lebih sakit apa yang dirasakan oleh ayah dan ibu jika mengetahui apa yang ada dalam benak anaknya.
Secara tidak langsung iri dan dengki telah merasuki sukmaku. Semua
terjadi begitu natural ketika apa yang aku pikir dan rasakan hanyalah
membayangkan kebahagiaan yang orang lain alami itu terjadi pada diriku. Aku terlalu
membanding-bandingkan kehidupan menyedihkanku dengan kebahagiaan orang lain. Maafkan
aku ayah dan ibu, jerih payah kalian selama ini hanya bisa kuratapi dengan
kepedihan. Stupid? Yes, I am. Bodoh,
bodoh, dan bodoh, begitu bodohnya aku terjebak dalam dunia keirian dan
perdengkian ini. Aku tak pernah berpikir bahwa di luar sana masih banyak
orang-orang yang tak seberuntung diriku.
Everyone have
a beautiful life and their best family. Semua itu bisa didapatkan dengan rasa syukur yang
dalam atas apa yang telah Tuhan beri dan takdirkan. Mind set yang positif
adalah salah satu pola yang dimiliki oleh orang yang selalu merasa bahagia
meskipun dalam keadaan terendah sekalipun. Tuhan telah memilihkan jalan yang
terbaik untuk makhluknya. Kehidupan yang sesat hanyalah pilihan bagi
orang-orang yang mengikuti nafsu setan di dalam hatinya.
Note: jangan pernah merasa lebih
baik dari orang lain, jangan memandang orang lain dengan sebelah mata,
perbanyak bersyukur dan kurangi berbangga diri yang berlebihan. Just be confident, don’t be arrogant! It’s
enough to get our happiness.
Prast
Tidak ada komentar:
Posting Komentar